Lima Cara Menjaga Paru Anak saat Kabut Asap
Anak bernapas lebih cepat dan paru-parunya masih berkembang. Lima langkah ini membantu orang tua melindungi anak saat kabut asap menyelimuti Riau.
Kabut asap kerap datang saat musim kemarau, terutama ketika terjadi kebakaran hutan dan lahan. Bagi anak-anak, asap ini membawa risiko lebih besar dibanding orang dewasa. Anak bernapas lebih cepat, lebih sering beraktivitas di luar rumah, dan paru-parunya masih dalam masa pertumbuhan. Karena itu, menjaga paru anak saat kabut asap perlu dilakukan sejak dini, bukan menunggu anak batuk atau sesak.
Partikel halus dalam asap, yang dikenal sebagai PM2.5, berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke saluran napas. Paparan yang berulang dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan memperburuk asma.
1. Pantau kualitas udara setiap hari
Biasakan memeriksa Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sebelum anak beraktivitas di luar. Kategori warna pada ISPU membantu orang tua mengambil keputusan dengan cepat. Panduan lengkapnya dapat dibaca di artikel cara membaca ISPU dan memilih masker.
2. Kurangi aktivitas di luar ruangan
Saat ISPU masuk kategori tidak sehat, tunda olahraga dan bermain di luar. Aktivitas fisik membuat anak bernapas lebih dalam sehingga asap yang terhirup semakin banyak.
3. Buat satu ruangan “udara bersih” di rumah
Tutup jendela dan pintu, lalu tutup celah ventilasi sementara dengan kain basah atau lakban. Jika ada, nyalakan penyaring udara (air purifier) yang dilengkapi filter HEPA di kamar tempat anak paling lama berada. Hindari merokok, membakar sampah, dan menyalakan obat nyamuk bakar di dalam rumah.
4. Gunakan masker yang sesuai
Masker kain dan masker bedah kurang efektif menyaring partikel halus. Untuk anak yang lebih besar, masker jenis N95 atau KN95 berukuran anak yang pas di wajah lebih baik. Bayi dan balita tidak dianjurkan memakai masker yang rapat; untuk mereka, prioritaskan tetap berada di ruangan berudara bersih.
5. Jaga daya tahan tubuh
Pastikan anak cukup minum air putih, makan buah dan sayur, serta tidur cukup. Cairan yang cukup membantu menjaga saluran napas tetap lembap.
Kapan anak harus dibawa ke dokter
Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan jika muncul tanda berikut:
- Napas cepat atau tampak sesak, terlihat dari tarikan dinding dada.
- Batuk yang tidak kunjung reda atau disertai demam tinggi.
- Bibir atau ujung jari tampak kebiruan.
- Anak dengan riwayat asma mengalami kekambuhan.
Di Riau, layanan puskesmas biasanya membuka posko kesehatan saat kabut asap memburuk. Pantau informasi resmi dari dinas kesehatan setempat dan BMKG untuk perkembangan kualitas udara.