Budaya dan Masyarakat

Pacu Jalur Kuantan Singingi, Tradisi Ratusan Tahun yang Kian Mendunia

Perahu panjang, puluhan pendayung, dan seorang anak yang menari di ujung jalur. Pacu Jalur membuktikan tradisi lokal bisa memikat perhatian dunia.

Setiap tahun, Sungai Kuantan di Teluk Kuantan berubah menjadi arena yang riuh. Puluhan perahu panjang yang disebut jalur melaju berpacu, didayung puluhan orang dengan irama yang kompak. Inilah Pacu Jalur Kuantan Singingi, tradisi masyarakat Rantau Kuantan yang usianya diperkirakan sudah ratusan tahun.

Dari alat transportasi menjadi pesta rakyat

Pada mulanya, jalur adalah perahu yang digunakan warga untuk mengangkut hasil bumi dan sebagai alat transportasi di sepanjang sungai. Seiring waktu, perahu ini dilombakan dalam perayaan hari besar. Kini Pacu Jalur digelar sebagai festival tahunan, umumnya berdekatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan pada bulan Agustus, dengan arena utama di Tepian Narosa, Teluk Kuantan.

Pacu Jalur telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Satu jalur, satu kampung

Sebuah jalur bukan sekadar perahu. Pembuatannya melibatkan seluruh warga kampung, mulai dari memilih pohon di hutan, menariknya ke kampung, hingga mengukir dan menghias badan perahu. Panjang jalur bisa mencapai puluhan meter dan diawaki puluhan pendayung.

Setiap awak memiliki peran:

  • Anak pacu, yakni para pendayung yang menjadi tenaga utama.
  • Tukang kemudi, yang mengatur arah jalur.
  • Tukang tari, yang menari di bagian depan untuk memberi semangat.
  • Tukang onjai, yang memberi aba-aba irama dari bagian belakang.

Anak coki yang mencuri perhatian

Di ujung haluan sering berdiri seorang anak yang menari, dikenal dengan sebutan anak coki atau tukang tari. Pada 2025, video seorang anak yang menari dengan tenang di ujung jalur viral di media sosial dan ditirukan warganet dari berbagai negara. Momen itu membuat Pacu Jalur semakin dikenal di luar Indonesia.

Peluang dan tantangan

Popularitas membawa peluang ekonomi bagi pedagang, penginapan, dan pelaku UMKM kuliner. Namun penyelenggara juga perlu menjaga agar nilai gotong royong dan makna budaya tidak tergeser oleh sekadar tontonan. Keselamatan penonton dan kebersihan sungai pun perlu mendapat perhatian.

Bagi yang ingin menyaksikan langsung, pantau pengumuman resmi pemerintah daerah untuk jadwal festival berikutnya. Jangan lupa mencicipi kuliner khas Riau selama berada di Kuantan Singingi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.