Pantun Melayu, Warisan Budaya Dunia yang Hidup di Keseharian Riau
Sampiran dan isi, rima a-b-a-b, serta sindiran yang halus. Pantun bukan hanya sastra lama, melainkan cara orang Melayu berkomunikasi.
Pada Desember 2020, UNESCO menetapkan pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia melalui nominasi bersama Indonesia dan Malaysia. Bagi masyarakat Riau, penetapan ini menegaskan apa yang sudah lama dirasakan: pantun Melayu bukan sekadar sastra lama, melainkan bagian dari cara hidup.
Struktur pantun
Pantun terdiri atas empat baris dalam satu bait. Dua baris pertama disebut sampiran, sedangkan dua baris terakhir adalah isi. Rimanya umumnya a-b-a-b. Contohnya:
Pergi ke pasar membeli tebu,
Tebu dibawa ke Teluk Kuantan;
Rajin membaca setiap waktu,
Ilmu dibawa sampai ke badan.
Sampiran sering mengambil gambaran alam dan kehidupan sehari-hari, sedangkan isi menyampaikan pesan, nasihat, atau sindiran.
Pantun dalam adat Melayu
Di Riau, pantun hadir dalam berbagai upacara adat, terutama pernikahan. Dalam prosesi berbalas pantun, wakil keluarga mempelai laki-laki dan perempuan saling menyampaikan maksud dengan bahasa yang halus. Pantun juga dipakai dalam pidato pembukaan acara, nyanyian, dan permainan anak.
Kemampuan berpantun dianggap menunjukkan kecerdasan dan kesantunan. Sindiran yang disampaikan lewat pantun terasa lebih halus sehingga tidak menyinggung perasaan.
Ragam pantun
- Pantun nasihat, berisi pesan moral dan agama.
- Pantun jenaka, untuk menghibur.
- Pantun kasih, untuk mengungkapkan perasaan.
- Pantun anak-anak, dengan bahasa sederhana.
Melestarikan di era digital
Pantun ternyata mudah beradaptasi. Banyak anak muda membuat pantun untuk takarir media sosial, video pendek, hingga promosi produk UMKM. Sekolah juga dapat mengadakan lomba berbalas pantun sebagai bagian dari gerakan budaya baca.
Pantun bertahan karena ia hidup dalam percakapan. Selama masih ada yang berbalas pantun, warisan ini akan terus terjaga.
Punya pantun karya sendiri? Kirimkan ke redaksi GagasanMU. Pantun terpilih akan kami tampilkan di Instagram.
Orang tua pun dapat mengenalkan pantun di rumah, misalnya dengan berbalas pantun sederhana saat makan malam atau dalam perjalanan. Cara santai seperti ini membuat anak mengenal warisan budayanya tanpa merasa sedang belajar.